Selasa, 20 Februari 2018

Reuni 30 Tahun Necis One 88



( Bertemu, Bercerita, Berbagi)
Logo Reuni 30 tahun Necis One 88



                Hai apa kabar? Kamu sekarang tinggal dimana? Apa kegiatan kamu? Anakmu sudah berapa? Alhamdulillah ya kita bisa bertemu lagi”. Sekelumit obrolan di antara teman waktu reuni tentunya banyak diutarakan. Sekian lama tak berjumpa tentu membuat seseorang merindukannya. Apa lagi dalam rentang waktu 30 tahun, tentunya kabar teman lama sangat dinantikan. Perubahan banyak menghampiri, yang dahulu kulitnya kencang, kini sudah mulai mengkerut. Pandangan yang dulunya setajam silet, kini lambat laun mulai berkurang. Begitupun daya ingat, awalnya  brlian hari ini sudah mengalami masa penurunan.


                Lewat Reuni itulah, maka seseorang  akan merasa terungkit masa-masa lalu. Ada ikatan kesamaan yang mengundang seseorang untuk mendatanginya. Sehingga disana tercipta kebersamaan, kebahagiaan, keikhlasan,  pengorbanan, perjuangan dan magnet kenangan yang tak bisa tergantikan. Maka tak heran, ada alumni yang jauh-jauh dari Kota Pahlawan Surabaya. Ujang solehudin sengaja memesan tiket Juanda-Soeta jauh-jauh hari. Atau Sutisna yang harus berjam-jam dalam Bis malam dari Cirebon ke Sukabumi. Hanya satu niat, ingin mengabulkan apa yang tersirat dalam hati untuk bersua kawan lama.


                Pukul 06.00 seperti yang dijadwalkan peserta satu per satu datang ke Gelanggang Cisaat. Sebuah tempat di kala sekolah dulu, menjadi tempat berkumpul untuk mata pelajaran Olah raga. Sekelebat terbayang wajah guru Olah raga seperti pak Dadin dan pak David Leo yang melatih kami untuk pentingnya berolah raga. Mereka mengajarkan kepada kami yang masih belia, untuk selalu aktif karena masih berada pada masa pertumbuhan.


 Sudah menjadi kebiasaan di kalangan orang Indonesia, kalau ketepatan waktu tak lagi menjadi prioritas. Sehingga ada anekdot, “Bukan Indonesia Kalau Tak Telat”. Seperti kali ini, ada dua orang yang membuat molor keberangkatan yakni Devi dan Syamsudin. Mendengar nama Devi penulis langsung teringat, kalau orang ini memang langganan kesiangan, ketika  sekolah juga wkwkwkkw.... alasannya sih karena jarak rumah ke sekolah sangat dekat banget. Sementara Syamsudin, belum juga kelihatan batang hidungnya. Hal ini membuat panitia harus berkali-kali menghubungi. Begitu mereka yang ditunggu datang, tak lama kemudian ketua Forum 88 Andi Rusmawan yang saat ini menjadi kepala Desa di salah satu desa di kecamatan Cisaat, mengajak peserta berdoa untuk segera berangkat ke tempat yang disepakati yakni Taman Bunga Nusantara.


Bagaikan anak SMP, yang namanya  kegaduhan, kejenakaan, kehebohan mewarnai sepanjang perjalanan.  Ada yang berkaraoke Ria, ada yang asyik dengan saling ledek, ada yang enjoy bercerita dengan teman sekursi, sambil sekali-kali menikmati suasana jalan berliku Cianjur-Cipanas.  Gelak tawa riang Ujang Sholehudin sepertinya  menjadi pemenang kalau seandainya adu kontes tertawa. Ada juga Rita yang berprofesi sebagai guru SD, saat itu muntah karena mabuk perjalanan. Anehnya malah jadi bahan guyonan dengan dishoot  oleh Nurdin Okky,  (Dosa loh Okky hahhaa...) itu namanya “Tertawa diatas Penderitaan orang lain”. Tapi saat-saat inilah yang justru akan menambah kehangatan. Tak ada kesal yang menggelayut, semua sirna  dalam sebuah keakraban.

Sesi photo dalam bingkai kebesamaan


Sekitar pukul 09.30 kami tiba di lokasi, Kamera Dron  yang mengangkasa menyambut kehadiran kami.  Luar biasa panitia yang diketuai oleh Adam Saeful Malik ini, sehingga semua acara terdokumentasi  secara rinci. Dan ini juga tak luput dari campur tangan sang photoghrafer  yang merupakan alumni 88 juga, Roni namanya dengan brand dotnetphotografy.


Ada cerita dari panitia kala berembuk untuk memutuskan tempat yang dituju. Katanya ada yang mau di Sukabumi saja, ada yang mau ke pantai, ada yang mau ke Situ Gunung dan banyak masukkan tentang kemana akan terlaksananya acara langka ini. Dan keputusan  Taman Bunga Nusantara ini, merupakan hasil final dari rentetan diskusi.  Sebuah taman peninggalan era presiden Soeharto, terletak di Kawung Luwuk bilangan Cipanas kabupaten Cianjur. Subhanalloh kami disuguhi oleh indahnya hamparan bunga warna-warni, penuh pesona dengan tatanan rapi sejuk dipandang, membuat jiwa rileks penuh kedamaian. Keunikan lainnya banyak patung binatang yang bukan terbuat dari beton atau kayu. Tapi tersusun dari rangkaian  bunga aneka warna melengkapi  eloknya hamparan taman ini.


Indahnya patung burung merak yang tersusun dari aneka bunga



Waktu terus berlalu, acara temu kangen inipun dimulai yang dipandu Eli Nurlaeli, yang sehari-harinya mengajar Bahasa Jerman di SMA 4 Sukabumi. Ada sambutan dari panitia dan ketua Forum 88, dan ada suguhan  tilawah oleh Dedi yang sebetulnya Qori dadakan. Asli ini mah dadakan, karena di Run Down  acara yang disebar di grup whatsapp tak disebutkan siapa yang akan membacakan Alquran. Luar biasa walaupun kami yang notabene sekolah umum, ternyata memiliki  Qori yang suaranya boleh juga. 
Ustadzahnya Necis One 88
          (Ari Ruspitasari)
Berlanjut dengan tausyiah yang dibawakan oleh Ari Ruspitasari, yang menjelaskan wajibnya kita introspeksi terhadap waktu. Sebuah tema yang cocok, karena memang usia kami tak muda lagi. Sebentar lagi usia 50 tahun akan menghampiri kami, sehingga memperhatikan waktu sebuah keniscayaan yang harus jadi acuan diri. Perhatikanlah di kepala kami, beberapa lembar uban telah muncul bagai mutiara. Gurat-gurat kecantikan teman wanita telah mulai mengkerut. Begitupun yang teman pria, kegagahannya mulai berkurang. Bahkan banyak teman-teman kami yang tak bisa hadir karena telah dipanggil Allah ke haribaan-Nya.




SUKA RIA DALAM KEBERSAMAAN
Untuk membuat tepat bugar, menggerakkan tubuh berolah raga sangat diperlukan. Itulah sebabnya panitia mengajak senam rame-rame. Bukan SPI atau SKJ seperti kami dahulu, tapi senam yang lagi trend saat ini yakni senam Maumere. Senam yang berasal dari Nusa Tenggara Timur ini, diiringi musik dengan lantunan lagu Gemu Fa Mi Re, yang dinyanyikan Ujang Baden (mang Duyeh) dengan suara emasnya. Organ tunggal pengiringnya digawangi Hendra yang merupakan  alumni Necis One 88  juga. Jangan Anda bayangkan kalau gerakkan senam kami tak sehebat  waktu sekolah atau segesit Aprilia kontingen Porda V Jawa Barat 1988, yang sayang dia berhalangan hadir di acara Reuni ini. Senam berlalu nafaspun memburu memenuhi rongga, jantung berdendang mengguncang aliran darah memenuhi tubuh. Kelihatan sekali kalau peserta tak seperkasa waktu itu. Padahal waktu senam tak lebih dari tujuh menit. (hah...heh...hoh...) 



Dalam sebuah moment penting seperti ini, biasanya ada Surprise yang tak disangka-sangka. Dan kejutan ini diberikan kepada Syamsudin yang dua hari lalu merayakan ulang tahun.  Lagu Happy Birth Day menghiasai kemeriahan siang itu. Lilin berbentuk angka 46 pun tak luput ditiupnya. Deru haru dan bahagia dia ungkapkan,

Surprise buat yang Ulang tahun
“Terimakasih buat teman-teman, saya sampai kehabisan kata-kata  untuk mengungkapkannya, ini adalah moment terindah, ini adalah kado yg membuat saya kembali muda. Sekian lama saya tak pernah meniup lilin, setelah lama tak merasakan nyanyian HBD, ternyata kawan-kawan masa kecillah yang melakukan ini. Terimakasih yang tak terhingga semoga apa yang telah kawan-kawan  lakukan untuk saya,  mendapat balasan dari Alloh, karena telah membuat seseorang bahagia.”




Agenda selanjutnya adalah SELAYANG PANDANG, beberapa perwakilan peserta menyuguhkan kenangan masa-masa sekolah dulu.  Adalah Dedah yang membuat peserta tertegun akan kisah yang dialami tempo dulu. ”Waktu sekolah itu, saya mempunyai kenangan yang sulit dilupakan. Dan saya khawatir dalam usia yang mulai tua ini, sesuatu yang kualami menjadi penghalang saya untuk masuk ke Surga-Nya Allah”.  Perempuan yang di musim haji 2015 menunaikan rukun islam ke-5 ini sesaat menghembuskan nafasnya. Matanya  mulai berkaca dan hentakan jantungnya mulai berdegup kencang. Lanjutnya, “Kala itu semua siswa harus melakukan shalat berjamaah,  sementara tempat wudhu terbatas, sehingga para murid harus rela antri. Mungkin karena tabiat anak-anak kala itu, belum memiliki rasa keteraturan dalam pekerjaan. Di tengah desak-desakkan itulah cipratan air mengenai  seorang teman wanita. Sontak perlakuan saya ini, membuat dia marah. Teman yang dimaksud adalah Ai Nurhayati”. 

peluk haru dua sahabat
Semua peserta mencari orang yang disebut Dedah, sementara orang yang dimaksud berdiri lalu menghampirinya. Dalam hatinya seolah tak percaya,karena Ai Nurhayati yang aktif sebagai pengajar di SMP 3 Sukabumi ini, sama sekali tak mengingat peristiwa yang ternyata sangat berbekas di hati seorang Dedah. Peluk erat dua sahabat ini, membuat suasana agak terharu. Dari ujung mata tak terasa deraian air mata menganak sungai, jatuh hangat membasahi pipi-pipi mereka.  Sebuah dekapan maaf tanda keikhlasan. Disini kita belajar, bahwa Reuni bukan ajang pamer harta, kedudukan atau hal lain yang terkadang menjadi momok penghalang bagi alumni untuk datang. Tapi Reuni mengajarkan kepada kita akan pentingnya ikatan Silaturrahim, keikhlasan, kebersamaan.


Mentari di langit kawasan Puncak Cipanas mulai beranjak ke arah barat. Rangkaian acara mulai Game, lomba balap karung, tarik tambang, lomba joget dengan jeruk menempel di dahi, berjalan memakai bakiak, berpacu dalam melodi dan lain sebagainya. 
game yang mengasyikkan
Semua terlaksana dalam nuansa hangat penuh nostalgia. Semua peserta menorehkan tanda tangan di sepanduk selamat datang. Tak ketinggalan ada sesi photo yang kelak di kemudian hari, mungkin akan menjadi kenangan indah yang terarsif di hati masing-masing.


 Setelah puas di arena berkumpul, peserta dimanjakan panitia menaiki kereta wara-wiri  untuk menelusuri setiap sudut areal taman yang luasnya 35 hektar ini. Keren abis deh panitia, membuat peserta merasa puas. Namun kebersamaan ini sepertinya akan berlalu. Kilasan senja telah mulai mengepakkan sayapnya. Kamipun melingkar bergandengan tangan, mengeratkan jiwa-jiwa yang selama ini terpendar. Lagu kemesraan yang dilantunkan bersama, mampu memberikan sensasi tersendiri.

".....kemesraan ini.... janganlah cepat berlalu... kemesraan ini... ingin kukenang selalu... HATIKU DAMAI.... jiwaku tentram bersamamu...."


       Adanya awal tentu ada akhir

Tibalah kami di penghujung acara
sore itu, kami mengikhlaskan tangan dalam balutan Jabat erat.
Saling memaafkan dalam rajutan persahabatan.
Kami telah bersama, melewati masa untuk menyongsong masa depan.
Biarkan sejuknya Taman Bunga Nusantara menjadi saksi,
kalau kami adalah SATU.
Kami pernah melewati hari-hari yang penuh makna.
Selamat berpisah sahabat...

Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi.
Kalaulah ada umur kita panjang, REUNI ke-40 kita berjumpa kembali.




#NecisOne
#NecisOne88

Tidak ada komentar:

Indahnya Masa Putih Biru

  Kenangan yang terukir indah. Saat kita bersama dalam suka yang penuh cita. Dibawah nuansa putih biru yang tak mudah dilupakan. Tiga dasawa...